Tampilkan postingan dengan label Penegas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penegas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juni 2010

Ketika Hitam Dijadikan Pacu Penegasan

Terkadang kita bertanya dan menanyakan apa itu arti tautan atau hubungan. Apakah kadang kita mengerti, apakah kadang kita mau menerima?

Lajur keras kehidupan memang tidak selalu diatas kemanisan. Kadang nilai nilai buruk inilah suatu adanya penyempurna. Kenapa?
Kitakan diajarkan untuk merangkul dan menimang sesama agar tertuju pada kebaikan dan kebenaran.

Lalu apakah kamu lakukan bila ada dari seseorang atau teman datang dengan keburukan. Apakah kita jauhi?
Ini kadang adalah sifat manusia mencari ketenangan diatas kesalahan orang. Bukankah semua untuk welas kasih atau saling menyayangi.

Pada dasarnya kita semua ada sisi kebaikan dan hanya mungkin tertutup kebiasan atau kurangnya bimbingan. Justru ujian kita disinilah, apa makna dari yang kita bisa kalau diam. Apakah akan ada nilai ataukah memang mau jadi yang bahagia.

Kita tahu dimana ada siang ada malam, dan ada hitam dan putih inilah teguran bagi kita mau nilai yang bagaimana?

Seperti perwujudan Punakawan telah kita dapatkan warisan yang luar biasa dari semua ada kekurangan dan kelebihan. Dan saka tatal di Masjid Agung Demak Semarang dari nilai yang sudah dianggap tidak guna jadikan patokan tengah penyempurna bangunan.

Pelompat Tanpa Bayangan

Ketika kita melajur diri maka kadang terikat pada lalu ataupun hal yang diangan jadikan ketakutan. Dimana kita bisa memulai suatu kemajuan jika kita terbeban. Diantara trauma lama kadang jadi perhitungan, tapi apakah layak jika dalam kasusnya selalu jadi penguji terus. Tentunya kita ingin bebas bergerak bukan?

Hari demi hari banyak hal yang kuimpikan kadang jadi gagal, entah kenapa? Kadang juga kudisodorkan pada hal yang tidak terduga inilah naluri. Dimana orang mengatakan bila kita ragu buat apa kita jalani, bila kita terpaksa apakah faeadah. Tentunya hal yang dipaksa inilah jadi suatu grendeng atau mengeluh. Dari adanya mengeluh kita akan terbeban.

Menatap keadaan nyata semua pikirkan yang pasti saja. Jalani semua dengan syukur dan nikmat dari padaNya atau akan tetap jadi orang yang merasa rugi. Bila tidak ada nilai sayang dan menerima keadaan diri sampai kapanpun tetap akan jadi penjilat.

Hidup ini terjal dan liris landai diantara ombak pantai. Terpanya mampu mendesir hantam karang yang menjulang. Seperti air pecah tapi tetap memapah. Papah pada semua kembali menyatukan harapan.

Aku memang belum apa apa dan memang tetap biasa. Dan diriku tetap yakin dan mau berjuang walau terjebak dikeadaan. Dari luar mungkin aku gagal tapi dalam penyikapan aku selalu melajur pada titik titik pemecahan.

Seperti adanya kuciran ataupun gunjingan itukan tetap jadi nilai penyempurna. Karena prinsipku" kurang adalah pembentuk pada penyempurna".