Ketika kita melajur diri maka kadang terikat pada lalu ataupun hal yang diangan jadikan ketakutan. Dimana kita bisa memulai suatu kemajuan jika kita terbeban. Diantara trauma lama kadang jadi perhitungan, tapi apakah layak jika dalam kasusnya selalu jadi penguji terus. Tentunya kita ingin bebas bergerak bukan?
Hari demi hari banyak hal yang kuimpikan kadang jadi gagal, entah kenapa? Kadang juga kudisodorkan pada hal yang tidak terduga inilah naluri. Dimana orang mengatakan bila kita ragu buat apa kita jalani, bila kita terpaksa apakah faeadah. Tentunya hal yang dipaksa inilah jadi suatu grendeng atau mengeluh. Dari adanya mengeluh kita akan terbeban.
Menatap keadaan nyata semua pikirkan yang pasti saja. Jalani semua dengan syukur dan nikmat dari padaNya atau akan tetap jadi orang yang merasa rugi. Bila tidak ada nilai sayang dan menerima keadaan diri sampai kapanpun tetap akan jadi penjilat.
Hidup ini terjal dan liris landai diantara ombak pantai. Terpanya mampu mendesir hantam karang yang menjulang. Seperti air pecah tapi tetap memapah. Papah pada semua kembali menyatukan harapan.
Aku memang belum apa apa dan memang tetap biasa. Dan diriku tetap yakin dan mau berjuang walau terjebak dikeadaan. Dari luar mungkin aku gagal tapi dalam penyikapan aku selalu melajur pada titik titik pemecahan.
Seperti adanya kuciran ataupun gunjingan itukan tetap jadi nilai penyempurna. Karena prinsipku" kurang adalah pembentuk pada penyempurna".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar